Translate

Selasa, 20 Januari 2026

Lanjutan Cerita Gen Z (teman Misterius)

Hiruk Pikuk Pikiran Remaja

oleh Diky Firdaus 

Tiga Orang dan Satu Pertanyaan

Hari-hari setelah itu terasa sedikit berbeda. Bukan karena hidupku langsung berubah, tapi karena aku mulai memperhatikan orang-orang di sekitarku.

Raka selalu duduk di bangku belakang. Gayanya santai, nilai biasa aja, tapi anehnya dia kelihatan lebih tenang daripada aku. Suatu hari dia nyeletuk,
“Dhal, lu tuh rajin banget. Tapi lu nikmatin nggak sih hidup lu?”

Pertanyaan itu nancep.
Aku nggak langsung jawab. Karena jujur, aku sendiri nggak yakin.

Sementara Naya, temanku sejak kelas X, tipe yang jarang banyak omong tapi sekali bicara selalu tepat. Dia pernah bilang pelan,
“Kadang orang kelihatan kuat bukan karena nggak capek, tapi karena nggak berani jujur.”

Aku merasa dia ngomongin aku. Tapi kali ini, aku nggak tersinggung.


Pesan Tanpa Nama

Suatu pagi, aku menemukan secarik kertas di laci mejaku. Tulisannya rapi.

“Kamu nggak harus sempurna buat jadi berharga.”
—A

Aku menoleh ke sekeliling. Nggak ada yang kelihatan mencurigakan.

Hari berikutnya, pesan lain muncul. Kadang di buku, kadang lewat DM akun anonim. Isinya selalu singkat, tapi anehnya menenangkan.

“Pelajar teladan juga boleh capek.”
—A

Aku nggak tahu siapa A. Tapi kehadirannya bikin aku merasa… dilihat. Bukan karena prestasi, tapi karena aku manusia.

Aku teringat konsep dukungan sosial dalam psikologi, bahwa manusia bisa bertahan bukan karena kuat sendirian, tapi karena merasa ditemani. Albert Bandura pernah menekankan betapa pentingnya interaksi sosial dalam membentuk kepercayaan diri dan daya tahan mental.

Dan tanpa sadar, A sedang melakukan itu.


Percakapan yang Mengubah Cara Pandang

Suatu sore, aku, Raka, dan Naya duduk di perpustakaan. Suasananya sepi. Entah kenapa, aku berani ngomong.

“Aku ngerasa… hidupku kayak checklist. Tapi aku nggak tahu aku bahagia atau nggak.”

Raka nyengir kecil.
“Welcome to manusia normal.”

Naya tersenyum tipis.
“Mungkin kamu terlalu lama hidup sesuai ekspektasi orang lain.”

Kalimat itu sederhana, tapi rasanya kayak kunci.

Aku sadar, selama ini aku mengira diterima berarti harus selalu benar, selalu unggul, selalu kuat. Padahal, jadi diri sendiri—dengan ragu dan takutnya—jauh lebih nyata.


Misteri yang Nggak Perlu Terjawab

Aku nggak pernah tahu siapa A sebenarnya. Dan anehnya, aku nggak lagi terlalu penasaran. Karena pesan-pesan itu sudah menjalankan tugasnya.

Dia mengingatkanku pada satu hal penting:
aku nggak sendirian.
dan aku nggak harus sempurna.

Aku masih Adhal, pelajar teladan. Tapi sekarang, aku juga Adhal yang belajar menerima dirinya sendiri.

Dan mungkin, itu prestasi paling jujur yang pernah kucapai.

Kamis, 15 Januari 2026

Cerita Gen Z

 

Adhal dan Hidup yang Terlihat Sempurna

oleh : Diky Firdaus

Nama aku Adhal.
Di sekolah, aku dikenal sebagai pelajar teladan. Nilai stabil, jarang melanggar aturan, aktif di kelas. Kalau guru butuh contoh, namaku sering disebut. Kalau teman butuh catatan, aku yang dicari.

Dari luar, hidupku kelihatan aman dan rapi.

Tapi cuma aku yang tahu, di kepalaku sering rame.

Setiap buka media sosial, aku lihat teman-teman yang kelihatannya lebih “hidup”: ada yang jago public speaking, ada yang sudah punya mimpi jelas, ada yang kelihatan pede banget sama dirinya sendiri. Aku mulai bertanya dalam hati, “Gue ini sebenarnya siapa, ya?”

Aku sadar, tanpa sengaja aku sering membandingkan hidupku dengan potongan terbaik hidup orang lain. Padahal, menurut psikolog Leon Festinger, manusia memang punya kecenderungan alami untuk menilai diri lewat perbandingan sosial. Masalahnya, kalau yang dibandingkan itu versi paling “glowing” orang lain, hasilnya hampir pasti bikin kita ngerasa kurang.

Dan itu yang sering aku rasain.

Lucunya, perasaan itu paling kuat justru muncul setelah orang lain muji aku.

“Hal, lu mah enak. Pintar, rapi, hidup terarah,” kata seseorang suatu hari.

Aku senyum. Refleks. Senyum yang sudah jadi kebiasaan.

Padahal, di dalam kepala, aku lagi sibuk mikir, terarah ke mana?

Aku sering duduk di bangku paling belakang kelas, pura-pura fokus, padahal pikiranku ke mana-mana. Guru ngomong di depan, papan tulis penuh rumus dan poin penting, tapi yang muter di kepalaku cuma satu: kenapa gue ngerasa kosong padahal semua terlihat oke?

Saat bel pulang berbunyi, teman-teman ribut ngebahas rencana nongkrong, lomba, atau target hidup mereka. Aku ikut ketawa, tapi rasanya kayak nonton hidup orang lain dari balik kaca. Dekat, tapi nggak benar-benar ada di situ.

Malamnya, aku rebahan sambil scroll. Satu story, dua story, tiga story. Semua orang kelihatan punya arah. Ada yang sudah yakin mau jadi apa, ada yang sibuk bangun personal brand, ada yang kelihatannya pede banget sama dirinya sendiri.

Aku narik napas panjang.

“Kenapa gue ngerasa ketinggalan, ya?” gumamku ke layar yang nggak bakal jawab apa-apa.

Padahal, kalau dipikir-pikir, aku nggak benar-benar gagal. Nilai aman. Orang tua bangga. Guru percaya. Tapi justru itu yang bikin aku takut. Takut kalau semua ini cuma soal memenuhi ekspektasi, bukan soal apa yang sebenarnya aku mau.

Aku pernah baca, remaja itu memang lagi ada di fase pencarian jati diri. Fase di mana wajar kalau bingung, ragu, bahkan ngerasa salah jalan. Tapi jujur aja, teori nggak selalu langsung bikin perasaan tenang.

Yang bikin berat bukan bingungnya, tapi perasaan harus kelihatan “baik-baik aja”.

Suatu hari, aku berdiri lama di depan cermin. Seragam rapi. Rambut klimis. Tampilan pelajar teladan. Aku lihat pantulan diri sendiri dan tiba-tiba kepikiran satu hal yang agak nyentil:

Gue ini hidup buat gue, atau buat penilaian orang lain?

Pertanyaan itu nempel terus, bahkan sampai aku duduk di kelas keesokan harinya. Saat guru manggil namaku lagi buat contoh jawaban benar, kelas tepuk tangan kecil. Aku berdiri, menjawab, duduk lagi.

Semua berjalan normal.

Terlalu normal.

Dan di tengah tepuk tangan itu, untuk pertama kalinya aku sadar, aku capek terus jadi versi “sempurna” tanpa pernah nanya, gue bahagia atau nggak?

Mungkin, selama ini aku terlalu sibuk kelihatan kuat, sampai lupa kalau manusia juga boleh ragu.

Dan mungkin… ini bukan tanda aku lemah.

Mungkin ini tanda aku mulai sadar.

Selasa, 06 Januari 2026

Fenomena Gen Z

 

Capek Tapi Harus Kuat: Potret Remaja di Era Digital

oleh: DIky Firdaus

Saat Sekolah, Sosial Media, dan Ekspektasi Bertabrakan

Bagi banyak siswa SMA, sekolah bukan hanya soal belajar di kelas. Sekolah adalah tempat membangun identitas, mencari pengakuan, dan menentukan posisi sosial. Di sinilah media sosial sering ikut campur.

Nilai ujian, ranking, prestasi lomba—semuanya kini bisa dengan mudah dibandingkan. Bahkan aktivitas sederhana seperti ikut organisasi atau nongkrong bersama teman bisa berubah menjadi “konten”. Tidak jarang muncul tekanan untuk terlihat aktif, produktif, dan bahagia, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian.

Akibatnya, beberapa remaja mulai merasa:

  • Takut gagal
  • Takut mengecewakan orang tua
  • Takut dianggap biasa saja

Padahal, menjadi “biasa” bukanlah sebuah dosa. Tidak semua orang harus menjadi juara kelas atau bintang media sosial untuk menjadi berarti.

Tentang Overthinking di Usia Remaja

Overthinking menjadi teman akrab banyak remaja. Memikirkan hal-hal seperti:
“Kalau aku salah pilih jurusan?”
“Kalau aku nggak sepintar mereka?”
“Kalau aku gagal nanti gimana?”

Pikiran-pikiran ini sering muncul saat malam hari, ketika layar ponsel masih menyala dan pikiran belum berhenti bekerja. Media sosial memperparah kondisi ini karena kita terus melihat pencapaian orang lain tanpa tahu perjuangan di baliknya.

Yang perlu diingat, masa depan tidak ditentukan oleh satu kesalahan atau satu nilai jelek. Hidup bukan satu garis lurus, melainkan perjalanan panjang dengan banyak kemungkinan.

Belajarlah Mengenal Diri Sendiri, Bukan Menjadi Orang Lain

Salah satu tantangan terbesar Gen Z adalah keinginan untuk diterima. Demi diterima, banyak remaja tanpa sadar mengubah diri:

  • Menyukai hal yang sebenarnya tidak disukai
  • Mengikuti tren meski tidak nyaman
  • Menyembunyikan pendapat demi terlihat aman

Sebenarnya, mengenal diri sendiri jauh lebih penting daripada disukai oleh semua orang. Menjadi diri sendiri tidak selalu mudah, tetapi jauh lebih nyaman daripada terus-menerus berpura-pura.

Remaja perlu ruang untuk mencoba, gagal, dan belajar tanpa takut dihakimi.

Peran Teman dan Lingkungan Sekolah

Teman sebaya memegang peran besar dalam kehidupan remaja. Dukungan kecil seperti mendengarkan, tidak mengejek, atau saling menyemangati bisa berdampak besar bagi kesehatan mental. Seperti percakapan pertemanan berikut ;

“Kita Ini Capek, Tapi Kenapa Malu Ngaku?”

Raka:
"Pernahkah kamu merasa sangat lelah tetapi tetap mengunggah cerita yang membuatmu tersenyum?"

Naya:
“Sering. Takut dikira lebay kalo jujur.”

Raka:
“Padahal capek tuh wajar ya.”

Naya:
“Iya. Tapi di sosmed, kayaknya semua orang harus keliatan kuat.”

Raka:
"Terkadang aku berpikir... apakah kita hidup untuk diri kita sendiri, atau untuk unggahan di media sosial?"

Naya:
“Kayaknya dua-duanya, tapi yang kedua lebih rame.”

Raka:
“Lucu ya. Kita rame di layar, tapi sepi di kepala.”

Naya:
“Makanya, kadang pengen off sebentar, biar jadi manusia.”

 

Sekolah pun memiliki peran penting sebagai ruang aman, bukan hanya tempat menuntut prestasi. Lingkungan sekolah yang sehat adalah lingkungan yang:

  • Menghargai perbedaan
  • Memberi ruang untuk berkembang
  • Tidak menilai siswa hanya dari angka

Ketika sekolah menjadi tempat yang aman, remaja akan lebih berani menjadi diri sendiri.

Berani Minta Tolong Itu Kuat

Salah satu stigma yang masih kuat di kalangan remaja adalah anggapan bahwa meminta bantuan berarti lemah. Padahal, justru sebaliknya. Berani bicara tentang perasaan, bercerita pada teman, guru BK, atau keluarga adalah tanda kedewasaan.

Tidak semua masalah harus diselesaikan sendirian. Setiap orang berhak mendapat dukungan.

Menata Ulang Hubungan dengan Media Sosial

Alih-alih menjadikan media sosial sebagai sumber tekanan, remaja bisa mulai menggunakannya secara lebih sadar:

  • Mengikuti akun yang memberi dampak positif
  • Mengurangi konsumsi konten yang memicu perbandingan
  • Menentukan batas waktu penggunaan

Media sosial seharusnya menjadi alat, bukan pengendali hidup.

Masa SMA Bukan Akhir, Tapi Awal

Sering kali remaja merasa masa SMA menentukan segalanya. Padahal, SMA hanyalah salah satu fase kehidupan. Banyak orang sukses yang justru menemukan jalannya setelah melewati masa sekolah dengan penuh kebingungan.

Yang terpenting bukan seberapa cepat kamu sampai, tetapi seberapa jujur kamu menjalani prosesnya.

Penutup: Untuk Kamu yang Sedang Berjuang Diam-Diam

Jika kamu membaca ini sambil merasa lelah, bingung, atau tidak cukup baik, ketahuilah satu hal: kamu tidak sendirian. Banyak remaja lain yang sedang berjuang dengan versinya masing-masing.

Hidup tidak harus selalu terlihat indah di layar. Tidak apa-apa berjalan pelan, tidak apa-apa salah arah, selama kamu terus bergerak dan belajar.

Jadilah remaja yang sadar, bukan remaja yang hanya mengejar validasi. Jadilah manusia, bukan sekadar akun.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa menarik kontenmu, tetapi seberapa jujur kamu menjalani dirimu sendiri.

Hidup Otentik atau Hidup Demi Konten? Kisah-Kisah Siswa SMA Generasi Z di Era Media Sosial

Oleh: Diky Firdaus

Mari kita jujur ​​pada diri sendiri.
Berapa jam sehari kita habiskan untuk menatap layar ponsel kita?

Aku bangun dan memeriksa notifikasi. Aku memeriksa media sosial dalam perjalanan ke sekolah. Aku membuka-buka ponselku saat istirahat. Aku berbaring setelah sekolah dan menonton video pendek yang seolah tak ada habisnya. Bahkan sebelum tidur, jari-jariku masih secara naluriah membuka aplikasi favoritku.

Bagi siswa SMA saat ini, media sosial lebih dari sekadar hiburan. Media sosial telah menjadi bagian dari gaya hidup mereka, cara berkomunikasi, dan bahkan tempat untuk mencari pengakuan. Namun, di balik semua kemudahan ini, muncul pertanyaan penting: apakah kita benar-benar hidup, ataukah kita hanya hidup demi konten?

Dunia yang Tampak Sempurna di Layar

Media sosial menghadirkan dunia yang tampaknya selalu menyenangkan. Foto liburan, prestasi akademik, tubuh ideal, gaya hidup estetis, dan bahkan konten motivasi yang tampaknya menginspirasi muncul setiap hari di beranda kita.

Masalahnya adalah, apa yang kita lihat bukanlah keseluruhan cerita. Media sosial hanyalah panggung , dan setiap orang memilih bagian terbaik untuk dipamerkan. Kegagalan, ketakutan, kebingungan, dan kelelahan seringkali tersembunyi.

Akibatnya, banyak remaja mulai membandingkan kehidupan mereka sendiri dengan kehidupan orang lain yang tampak "lebih sukses" atau "lebih bahagia." Tanpa disadari, perasaan tidak aman pun muncul.

Tekanan Tak Terlihat pada Remaja SMA

Menjadi siswa SMA di era Generasi Z bukanlah hal mudah. ​​Selain tuntutan akademis, remaja juga menghadapi ekspektasi sosial yang semakin kompleks. Mereka harus pintar, aktif dalam organisasi, memiliki prestasi, dan berbakat, sambil tetap terlihat keren di media sosial.

Belum lagi pertanyaan-pertanyaan klasik yang sering terdengar:
"Kamu ingin jadi apa ketika dewasa nanti?"
"Apakah kamu punya rencana untuk masa depan?"

Pertanyaan-pertanyaan ini bisa terasa menakutkan, terutama bagi mereka yang masih mencari jati diri. Tidak semua remaja langsung menemukan minat mereka di usia remaja. Dan itu sepenuhnya normal.

Namun, media sosial seringkali membuat kita merasa tertinggal, seolah-olah semua orang sudah bergerak maju sementara kita masih terj terjebak di tempat yang sama.

FOMO: Ketakutan Ketinggalan dan Ketakutan Tidak Dipertimbangkan

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) adalah salah satu tantangan terbesar Generasi Z. Takut ketinggalan tren, takut ketinggalan zaman, takut tidak dianggap relevan. Pada akhirnya, banyak remaja merasa terdorong untuk selalu mengikuti tren terkini.

Namun, mengikuti tren tanpa memahami diri sendiri justru dapat menyesatkan kita. Kita menjadi terlalu sibuk mengejar pengakuan alih-alih mengenali potensi diri kita sendiri.

Ironisnya, semakin kita mencari validasi eksternal, semakin sulit kita merasa cukup dari dalam diri sendiri.

Tidak Selalu Baik-Baik Saja, Tidak Salah

Ada satu hal penting yang perlu disadari oleh remaja: tidak apa-apa jika mereka tidak selalu merasa baik-baik saja .

Merasa lelah, sedih, bingung, atau bahkan ingin menyerah bukan berarti kamu lemah. Itu bagian dari proses tumbuh dewasa. Sayangnya, media sosial sering menciptakan ilusi bahwa setiap orang harus selalu kuat, bahagia, dan produktif.

Lagipula, manusia bukanlah mesin. Kita butuh waktu untuk beristirahat, merenung, dan mengenali emosi kita sendiri. Mengakui bahwa kita tidak baik-baik saja sebenarnya adalah bentuk keberanian.

Belajar Menyeimbangkan Dunia Digital dan Dunia Nyata

Teknologi bukanlah sesuatu yang salah, dan media sosial bukanlah musuh. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan. Remaja perlu belajar kapan harus online dan kapan harus beristirahat.

Sesekali, cobalah melakukan hal-hal sederhana:

  • Ngobrol langsung dengan teman tanpa perlu memegang ponsel Anda.

  • Menulis jurnal atau buku harian

  • Dengarkan musik tanpa perlu menggulir

  • Menikmati waktu sendirian tanpa tekanan

Aktivitas-aktivitas kecil ini dapat membantu kita terhubung kembali dengan diri kita sendiri dan dunia nyata.

Kamu Lebih Dari Sekadar Jumlah Like dan Pengikut

Salah satu kesalahpahaman terbesar di era digital adalah mengukur harga diri berdasarkan angka di layar. Jumlah suka, tayangan, dan pengikut sering dianggap sebagai ukuran popularitas, bahkan kesuksesan.

Faktanya, harga diri seseorang tidak ditentukan oleh algoritma. Banyak remaja hebat yang tidak viral atau terkenal, namun mereka memiliki potensi yang luar biasa dan karakter yang kuat. Dunia nyata membutuhkan lebih dari sekadar popularitas; dibutuhkan kejujuran, empati, dan kerja keras.

Setiap orang memiliki waktu dan jalannya sendiri.

Perjalanan hidup bukanlah perlombaan. Tidak semua orang berhasil di usia muda, dan tidak semua orang mencapai hal-hal besar di sekolah menengah. Beberapa bersinar sejak dini, sementara yang lain menemukan jalan mereka kemudian.

Yang terpenting adalah terus belajar, mencoba, dan mengembangkan diri sesuai kemampuanmu. Membandingkan diri dengan orang lain hanya akan menguras energi dan kepercayaan dirimu.

Menjadi Remaja yang Sadar dan Berkembang

Menjadi siswa SMA generasi Z di era digital tentu penuh tantangan. Namun, tantangan ini juga bisa menjadi kesempatan untuk lebih mengenal diri sendiri. Media sosial dapat menjadi sarana ekspresi, tetapi seharusnya tidak menjadi penentu harga diri.

Jika kamu merasa bingung, lelah, atau tertinggal hari ini, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian. Banyak remaja lain merasakan hal yang sama. Proses tumbuh dewasa tidak selalu nyaman, tetapi di situlah pembelajaran terjadi.

Hiduplah sebagai diri sendiri, bukan untuk konten, bukan untuk pengakuan, tetapi untuk masa depan yang kamu bangun dengan kesadaran dan keberanian.