Adhal dan Hidup yang Terlihat Sempurna
Nama aku Adhal.
Di sekolah, aku dikenal sebagai pelajar teladan. Nilai stabil, jarang melanggar aturan, aktif di kelas. Kalau guru butuh contoh, namaku sering disebut. Kalau teman butuh catatan, aku yang dicari.
Dari luar, hidupku kelihatan aman dan rapi.
Tapi cuma aku yang tahu, di kepalaku sering rame.
Setiap buka media sosial, aku lihat teman-teman yang kelihatannya lebih “hidup”: ada yang jago public speaking, ada yang sudah punya mimpi jelas, ada yang kelihatan pede banget sama dirinya sendiri. Aku mulai bertanya dalam hati, “Gue ini sebenarnya siapa, ya?”
Aku sadar, tanpa sengaja aku sering membandingkan hidupku dengan potongan terbaik hidup orang lain. Padahal, menurut psikolog Leon Festinger, manusia memang punya kecenderungan alami untuk menilai diri lewat perbandingan sosial. Masalahnya, kalau yang dibandingkan itu versi paling “glowing” orang lain, hasilnya hampir pasti bikin kita ngerasa kurang.
Dan itu yang sering aku rasain.
Lucunya, perasaan itu paling kuat justru muncul setelah orang lain muji aku.
“Hal, lu mah enak. Pintar, rapi, hidup terarah,” kata seseorang suatu hari.
Aku senyum. Refleks. Senyum yang sudah jadi kebiasaan.
Padahal, di dalam kepala, aku lagi sibuk mikir, terarah ke mana?
Aku sering duduk di bangku paling belakang kelas, pura-pura fokus, padahal pikiranku ke mana-mana. Guru ngomong di depan, papan tulis penuh rumus dan poin penting, tapi yang muter di kepalaku cuma satu: kenapa gue ngerasa kosong padahal semua terlihat oke?
Saat bel pulang berbunyi, teman-teman ribut ngebahas rencana nongkrong, lomba, atau target hidup mereka. Aku ikut ketawa, tapi rasanya kayak nonton hidup orang lain dari balik kaca. Dekat, tapi nggak benar-benar ada di situ.
Malamnya, aku rebahan sambil scroll. Satu story, dua story, tiga story. Semua orang kelihatan punya arah. Ada yang sudah yakin mau jadi apa, ada yang sibuk bangun personal brand, ada yang kelihatannya pede banget sama dirinya sendiri.
Aku narik napas panjang.
“Kenapa gue ngerasa ketinggalan, ya?” gumamku ke layar yang nggak bakal jawab apa-apa.
Padahal, kalau dipikir-pikir, aku nggak benar-benar gagal. Nilai aman. Orang tua bangga. Guru percaya. Tapi justru itu yang bikin aku takut. Takut kalau semua ini cuma soal memenuhi ekspektasi, bukan soal apa yang sebenarnya aku mau.
Aku pernah baca, remaja itu memang lagi ada di fase pencarian jati diri. Fase di mana wajar kalau bingung, ragu, bahkan ngerasa salah jalan. Tapi jujur aja, teori nggak selalu langsung bikin perasaan tenang.
Yang bikin berat bukan bingungnya, tapi perasaan harus kelihatan “baik-baik aja”.
Suatu hari, aku berdiri lama di depan cermin. Seragam rapi. Rambut klimis. Tampilan pelajar teladan. Aku lihat pantulan diri sendiri dan tiba-tiba kepikiran satu hal yang agak nyentil:
Gue ini hidup buat gue, atau buat penilaian orang lain?
Pertanyaan itu nempel terus, bahkan sampai aku duduk di kelas keesokan harinya. Saat guru manggil namaku lagi buat contoh jawaban benar, kelas tepuk tangan kecil. Aku berdiri, menjawab, duduk lagi.
Semua berjalan normal.
Terlalu normal.
Dan di tengah tepuk tangan itu, untuk pertama kalinya aku sadar, aku capek terus jadi versi “sempurna” tanpa pernah nanya, gue bahagia atau nggak?
Mungkin, selama ini aku terlalu sibuk kelihatan kuat, sampai lupa kalau manusia juga boleh ragu.
Dan mungkin… ini bukan tanda aku lemah.
Mungkin ini tanda aku mulai sadar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar