Translate

Selasa, 06 Januari 2026

Fenomena Gen Z

 

Capek Tapi Harus Kuat: Potret Remaja di Era Digital

oleh: DIky Firdaus

Saat Sekolah, Sosial Media, dan Ekspektasi Bertabrakan

Bagi banyak siswa SMA, sekolah bukan hanya soal belajar di kelas. Sekolah adalah tempat membangun identitas, mencari pengakuan, dan menentukan posisi sosial. Di sinilah media sosial sering ikut campur.

Nilai ujian, ranking, prestasi lomba—semuanya kini bisa dengan mudah dibandingkan. Bahkan aktivitas sederhana seperti ikut organisasi atau nongkrong bersama teman bisa berubah menjadi “konten”. Tidak jarang muncul tekanan untuk terlihat aktif, produktif, dan bahagia, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian.

Akibatnya, beberapa remaja mulai merasa:

  • Takut gagal
  • Takut mengecewakan orang tua
  • Takut dianggap biasa saja

Padahal, menjadi “biasa” bukanlah sebuah dosa. Tidak semua orang harus menjadi juara kelas atau bintang media sosial untuk menjadi berarti.

Tentang Overthinking di Usia Remaja

Overthinking menjadi teman akrab banyak remaja. Memikirkan hal-hal seperti:
“Kalau aku salah pilih jurusan?”
“Kalau aku nggak sepintar mereka?”
“Kalau aku gagal nanti gimana?”

Pikiran-pikiran ini sering muncul saat malam hari, ketika layar ponsel masih menyala dan pikiran belum berhenti bekerja. Media sosial memperparah kondisi ini karena kita terus melihat pencapaian orang lain tanpa tahu perjuangan di baliknya.

Yang perlu diingat, masa depan tidak ditentukan oleh satu kesalahan atau satu nilai jelek. Hidup bukan satu garis lurus, melainkan perjalanan panjang dengan banyak kemungkinan.

Belajarlah Mengenal Diri Sendiri, Bukan Menjadi Orang Lain

Salah satu tantangan terbesar Gen Z adalah keinginan untuk diterima. Demi diterima, banyak remaja tanpa sadar mengubah diri:

  • Menyukai hal yang sebenarnya tidak disukai
  • Mengikuti tren meski tidak nyaman
  • Menyembunyikan pendapat demi terlihat aman

Sebenarnya, mengenal diri sendiri jauh lebih penting daripada disukai oleh semua orang. Menjadi diri sendiri tidak selalu mudah, tetapi jauh lebih nyaman daripada terus-menerus berpura-pura.

Remaja perlu ruang untuk mencoba, gagal, dan belajar tanpa takut dihakimi.

Peran Teman dan Lingkungan Sekolah

Teman sebaya memegang peran besar dalam kehidupan remaja. Dukungan kecil seperti mendengarkan, tidak mengejek, atau saling menyemangati bisa berdampak besar bagi kesehatan mental. Seperti percakapan pertemanan berikut ;

“Kita Ini Capek, Tapi Kenapa Malu Ngaku?”

Raka:
"Pernahkah kamu merasa sangat lelah tetapi tetap mengunggah cerita yang membuatmu tersenyum?"

Naya:
“Sering. Takut dikira lebay kalo jujur.”

Raka:
“Padahal capek tuh wajar ya.”

Naya:
“Iya. Tapi di sosmed, kayaknya semua orang harus keliatan kuat.”

Raka:
"Terkadang aku berpikir... apakah kita hidup untuk diri kita sendiri, atau untuk unggahan di media sosial?"

Naya:
“Kayaknya dua-duanya, tapi yang kedua lebih rame.”

Raka:
“Lucu ya. Kita rame di layar, tapi sepi di kepala.”

Naya:
“Makanya, kadang pengen off sebentar, biar jadi manusia.”

 

Sekolah pun memiliki peran penting sebagai ruang aman, bukan hanya tempat menuntut prestasi. Lingkungan sekolah yang sehat adalah lingkungan yang:

  • Menghargai perbedaan
  • Memberi ruang untuk berkembang
  • Tidak menilai siswa hanya dari angka

Ketika sekolah menjadi tempat yang aman, remaja akan lebih berani menjadi diri sendiri.

Berani Minta Tolong Itu Kuat

Salah satu stigma yang masih kuat di kalangan remaja adalah anggapan bahwa meminta bantuan berarti lemah. Padahal, justru sebaliknya. Berani bicara tentang perasaan, bercerita pada teman, guru BK, atau keluarga adalah tanda kedewasaan.

Tidak semua masalah harus diselesaikan sendirian. Setiap orang berhak mendapat dukungan.

Menata Ulang Hubungan dengan Media Sosial

Alih-alih menjadikan media sosial sebagai sumber tekanan, remaja bisa mulai menggunakannya secara lebih sadar:

  • Mengikuti akun yang memberi dampak positif
  • Mengurangi konsumsi konten yang memicu perbandingan
  • Menentukan batas waktu penggunaan

Media sosial seharusnya menjadi alat, bukan pengendali hidup.

Masa SMA Bukan Akhir, Tapi Awal

Sering kali remaja merasa masa SMA menentukan segalanya. Padahal, SMA hanyalah salah satu fase kehidupan. Banyak orang sukses yang justru menemukan jalannya setelah melewati masa sekolah dengan penuh kebingungan.

Yang terpenting bukan seberapa cepat kamu sampai, tetapi seberapa jujur kamu menjalani prosesnya.

Penutup: Untuk Kamu yang Sedang Berjuang Diam-Diam

Jika kamu membaca ini sambil merasa lelah, bingung, atau tidak cukup baik, ketahuilah satu hal: kamu tidak sendirian. Banyak remaja lain yang sedang berjuang dengan versinya masing-masing.

Hidup tidak harus selalu terlihat indah di layar. Tidak apa-apa berjalan pelan, tidak apa-apa salah arah, selama kamu terus bergerak dan belajar.

Jadilah remaja yang sadar, bukan remaja yang hanya mengejar validasi. Jadilah manusia, bukan sekadar akun.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa menarik kontenmu, tetapi seberapa jujur kamu menjalani dirimu sendiri.

Hidup Otentik atau Hidup Demi Konten? Kisah-Kisah Siswa SMA Generasi Z di Era Media Sosial

Oleh: Diky Firdaus

Mari kita jujur ​​pada diri sendiri.
Berapa jam sehari kita habiskan untuk menatap layar ponsel kita?

Aku bangun dan memeriksa notifikasi. Aku memeriksa media sosial dalam perjalanan ke sekolah. Aku membuka-buka ponselku saat istirahat. Aku berbaring setelah sekolah dan menonton video pendek yang seolah tak ada habisnya. Bahkan sebelum tidur, jari-jariku masih secara naluriah membuka aplikasi favoritku.

Bagi siswa SMA saat ini, media sosial lebih dari sekadar hiburan. Media sosial telah menjadi bagian dari gaya hidup mereka, cara berkomunikasi, dan bahkan tempat untuk mencari pengakuan. Namun, di balik semua kemudahan ini, muncul pertanyaan penting: apakah kita benar-benar hidup, ataukah kita hanya hidup demi konten?

Dunia yang Tampak Sempurna di Layar

Media sosial menghadirkan dunia yang tampaknya selalu menyenangkan. Foto liburan, prestasi akademik, tubuh ideal, gaya hidup estetis, dan bahkan konten motivasi yang tampaknya menginspirasi muncul setiap hari di beranda kita.

Masalahnya adalah, apa yang kita lihat bukanlah keseluruhan cerita. Media sosial hanyalah panggung , dan setiap orang memilih bagian terbaik untuk dipamerkan. Kegagalan, ketakutan, kebingungan, dan kelelahan seringkali tersembunyi.

Akibatnya, banyak remaja mulai membandingkan kehidupan mereka sendiri dengan kehidupan orang lain yang tampak "lebih sukses" atau "lebih bahagia." Tanpa disadari, perasaan tidak aman pun muncul.

Tekanan Tak Terlihat pada Remaja SMA

Menjadi siswa SMA di era Generasi Z bukanlah hal mudah. ​​Selain tuntutan akademis, remaja juga menghadapi ekspektasi sosial yang semakin kompleks. Mereka harus pintar, aktif dalam organisasi, memiliki prestasi, dan berbakat, sambil tetap terlihat keren di media sosial.

Belum lagi pertanyaan-pertanyaan klasik yang sering terdengar:
"Kamu ingin jadi apa ketika dewasa nanti?"
"Apakah kamu punya rencana untuk masa depan?"

Pertanyaan-pertanyaan ini bisa terasa menakutkan, terutama bagi mereka yang masih mencari jati diri. Tidak semua remaja langsung menemukan minat mereka di usia remaja. Dan itu sepenuhnya normal.

Namun, media sosial seringkali membuat kita merasa tertinggal, seolah-olah semua orang sudah bergerak maju sementara kita masih terj terjebak di tempat yang sama.

FOMO: Ketakutan Ketinggalan dan Ketakutan Tidak Dipertimbangkan

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) adalah salah satu tantangan terbesar Generasi Z. Takut ketinggalan tren, takut ketinggalan zaman, takut tidak dianggap relevan. Pada akhirnya, banyak remaja merasa terdorong untuk selalu mengikuti tren terkini.

Namun, mengikuti tren tanpa memahami diri sendiri justru dapat menyesatkan kita. Kita menjadi terlalu sibuk mengejar pengakuan alih-alih mengenali potensi diri kita sendiri.

Ironisnya, semakin kita mencari validasi eksternal, semakin sulit kita merasa cukup dari dalam diri sendiri.

Tidak Selalu Baik-Baik Saja, Tidak Salah

Ada satu hal penting yang perlu disadari oleh remaja: tidak apa-apa jika mereka tidak selalu merasa baik-baik saja .

Merasa lelah, sedih, bingung, atau bahkan ingin menyerah bukan berarti kamu lemah. Itu bagian dari proses tumbuh dewasa. Sayangnya, media sosial sering menciptakan ilusi bahwa setiap orang harus selalu kuat, bahagia, dan produktif.

Lagipula, manusia bukanlah mesin. Kita butuh waktu untuk beristirahat, merenung, dan mengenali emosi kita sendiri. Mengakui bahwa kita tidak baik-baik saja sebenarnya adalah bentuk keberanian.

Belajar Menyeimbangkan Dunia Digital dan Dunia Nyata

Teknologi bukanlah sesuatu yang salah, dan media sosial bukanlah musuh. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan. Remaja perlu belajar kapan harus online dan kapan harus beristirahat.

Sesekali, cobalah melakukan hal-hal sederhana:

  • Ngobrol langsung dengan teman tanpa perlu memegang ponsel Anda.

  • Menulis jurnal atau buku harian

  • Dengarkan musik tanpa perlu menggulir

  • Menikmati waktu sendirian tanpa tekanan

Aktivitas-aktivitas kecil ini dapat membantu kita terhubung kembali dengan diri kita sendiri dan dunia nyata.

Kamu Lebih Dari Sekadar Jumlah Like dan Pengikut

Salah satu kesalahpahaman terbesar di era digital adalah mengukur harga diri berdasarkan angka di layar. Jumlah suka, tayangan, dan pengikut sering dianggap sebagai ukuran popularitas, bahkan kesuksesan.

Faktanya, harga diri seseorang tidak ditentukan oleh algoritma. Banyak remaja hebat yang tidak viral atau terkenal, namun mereka memiliki potensi yang luar biasa dan karakter yang kuat. Dunia nyata membutuhkan lebih dari sekadar popularitas; dibutuhkan kejujuran, empati, dan kerja keras.

Setiap orang memiliki waktu dan jalannya sendiri.

Perjalanan hidup bukanlah perlombaan. Tidak semua orang berhasil di usia muda, dan tidak semua orang mencapai hal-hal besar di sekolah menengah. Beberapa bersinar sejak dini, sementara yang lain menemukan jalan mereka kemudian.

Yang terpenting adalah terus belajar, mencoba, dan mengembangkan diri sesuai kemampuanmu. Membandingkan diri dengan orang lain hanya akan menguras energi dan kepercayaan dirimu.

Menjadi Remaja yang Sadar dan Berkembang

Menjadi siswa SMA generasi Z di era digital tentu penuh tantangan. Namun, tantangan ini juga bisa menjadi kesempatan untuk lebih mengenal diri sendiri. Media sosial dapat menjadi sarana ekspresi, tetapi seharusnya tidak menjadi penentu harga diri.

Jika kamu merasa bingung, lelah, atau tertinggal hari ini, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian. Banyak remaja lain merasakan hal yang sama. Proses tumbuh dewasa tidak selalu nyaman, tetapi di situlah pembelajaran terjadi.

Hiduplah sebagai diri sendiri, bukan untuk konten, bukan untuk pengakuan, tetapi untuk masa depan yang kamu bangun dengan kesadaran dan keberanian.

1 komentar:

Adhal Dzulfikar mengatakan...

Blog yang sangat bermanfaat bagi para kaum gen Z yang sedang mencari jati dirinya dan tidak hanya mengikuti garis lurus kehidupan. Aku sebagai gen Z sangat tercerahkan oleh blog ini atau yang sejenisnya.
Namun tak salah jika aku sebagai gen Z mempelajari dunia digital sebab dunia digital itu sangatlah luas. Asalkan bisa mengatur dan membatasi serta memilah dan memilih konten yang bermanfaat untuk bisa membantu mindsetku berubah dan selalu berkembang jauh lebih baik.
Terima Kasih atas pencerahannya bapa Diky Firdaus!