Translate

Jumat, 20 Maret 2026

Lanjutan Cerpen 3

 Teman atau Tekanan? 

Di kantin, Raka dan Naya lagi debat kecil.

“Kadang capek ya, harus selalu keliatan kuat,” kata Naya.

Aku ikut nimbrung, “Lebih capek lagi kalau kita pura-pura.”

Raka ketawa kecil. “Berarti kita selama ini capek bareng, ya.”

Kami saling diam sebentar. Lalu ketawa.

Di situ aku sadar—teman itu bukan yang bikin kita terlihat hebat, tapi yang bikin kita bisa jadi diri sendiri tanpa takut.

Menurutku, lingkungan itu ngaruh banget. Kalau kita terus ada di lingkungan yang penuh perbandingan, kita akan terus ngerasa kurang.

Tapi kalau lingkungannya suportif, kita bisa tumbuh.

Dan aku mulai milih: aku mau ada di lingkungan yang jujur, bukan yang cuma terlihat keren.

Ketika Tanggung Jawab Itu Berat

Sebagai pelajar teladan, aku diminta jadi ketua proyek lomba sekolah.

Awalnya aku bangga. Tapi makin lama, aku mulai kewalahan. Tim nggak solid. Deadline mepet. Dan aku sempat kepikiran untuk “mengatur laporan” biar terlihat rapi di depan guru.

Tapi aku ingat satu hal:

jujur itu bukan cuma soal nilai, tapi juga soal proses.

Akhirnya aku pilih jujur.

“Bu, proyek kami belum maksimal. Ini kekurangannya.”

Aku kira bakal dimarahin.

Ternyata tidak.

“Kamu bertanggung jawab. Itu lebih penting dari hasil sempurna,” jawab guru.

Aku pulang hari itu dengan perasaan aneh—capek, tapi bangga.

Tidak ada komentar: