Hiruk Pikuk Pikiran Remaja
oleh Diky Firdaus
Tiga Orang dan Satu Pertanyaan
Hari-hari setelah itu terasa sedikit berbeda. Bukan karena hidupku langsung berubah, tapi karena aku mulai memperhatikan orang-orang di sekitarku.
Raka selalu duduk di bangku belakang. Gayanya santai, nilai biasa aja, tapi anehnya dia kelihatan lebih tenang daripada aku. Suatu hari dia nyeletuk,
“Dhal, lu tuh rajin banget. Tapi lu nikmatin nggak sih hidup lu?”
Pertanyaan itu nancep.
Aku nggak langsung jawab. Karena jujur, aku sendiri nggak yakin.
Sementara Naya, temanku sejak kelas X, tipe yang jarang banyak omong tapi sekali bicara selalu tepat. Dia pernah bilang pelan,
“Kadang orang kelihatan kuat bukan karena nggak capek, tapi karena nggak berani jujur.”
Aku merasa dia ngomongin aku. Tapi kali ini, aku nggak tersinggung.
Pesan Tanpa Nama
Suatu pagi, aku menemukan secarik kertas di laci mejaku. Tulisannya rapi.
“Kamu nggak harus sempurna buat jadi berharga.”
—A
Aku menoleh ke sekeliling. Nggak ada yang kelihatan mencurigakan.
Hari berikutnya, pesan lain muncul. Kadang di buku, kadang lewat DM akun anonim. Isinya selalu singkat, tapi anehnya menenangkan.
“Pelajar teladan juga boleh capek.”
—A
Aku nggak tahu siapa A. Tapi kehadirannya bikin aku merasa… dilihat. Bukan karena prestasi, tapi karena aku manusia.
Aku teringat konsep dukungan sosial dalam psikologi, bahwa manusia bisa bertahan bukan karena kuat sendirian, tapi karena merasa ditemani. Albert Bandura pernah menekankan betapa pentingnya interaksi sosial dalam membentuk kepercayaan diri dan daya tahan mental.
Dan tanpa sadar, A sedang melakukan itu.
Percakapan yang Mengubah Cara Pandang
Suatu sore, aku, Raka, dan Naya duduk di perpustakaan. Suasananya sepi. Entah kenapa, aku berani ngomong.
“Aku ngerasa… hidupku kayak checklist. Tapi aku nggak tahu aku bahagia atau nggak.”
Raka nyengir kecil.
“Welcome to manusia normal.”
Naya tersenyum tipis.
“Mungkin kamu terlalu lama hidup sesuai ekspektasi orang lain.”
Kalimat itu sederhana, tapi rasanya kayak kunci.
Aku sadar, selama ini aku mengira diterima berarti harus selalu benar, selalu unggul, selalu kuat. Padahal, jadi diri sendiri—dengan ragu dan takutnya—jauh lebih nyata.
Misteri yang Nggak Perlu Terjawab
Aku nggak pernah tahu siapa A sebenarnya. Dan anehnya, aku nggak lagi terlalu penasaran. Karena pesan-pesan itu sudah menjalankan tugasnya.
Dia mengingatkanku pada satu hal penting:
aku nggak sendirian.
dan aku nggak harus sempurna.
Aku masih Adhal, pelajar teladan. Tapi sekarang, aku juga Adhal yang belajar menerima dirinya sendiri.
Dan mungkin, itu prestasi paling jujur yang pernah kucapai.
